Minggu, 23 Juni 2013

Pembangunan Terowongan Mass Rapid Transit di Sudirman

happy reading . Terowongan bawah tanah untuk transportasi massal, Mass Rapid Transit ( MRT ) yang berlokasi mulai dari Bundaran Hotel state ( HI ) sampai Jalan Sisingamaraja dekat dengan sekolah Al – Azhar sesuai kontrak akan dibangun fencing lambat bulan Oktober 2013. Apakah jalan prescript yang banyak dilewati kendaraan seperti Jalan Sudirman akan menimbulkan kemacetan ? Kontraktor proyek pembangunan tersebut yakni PT Wijaya Karya TBK ( Wika ) mengakui pengerjaan serta mobilisasi berbagai alat dan touchable paket proyek bawah tanah MRT ini akan dilakukan dengan memantau faktor lalu lintas di atasnya sehingga Jalur Sudirman dapat meminimalisir kemacetan di sekitarnya. Material untuk pembangunan proyek tersebut tentunya akan menggunakan berbagai touchable yaitu baja, besi, pipa, logam dan berbagai touchable lainnya. Berbagai touchable tersebut dibutuhkan standar ketebalan bahan yang dapat dilalui dengan metode pengukuran non desktruktif. Instrumen Ultrasonic broadness judge dapat membantu pengukuran touchable tersebut dengan mudah dan cepat. Pengaruh ketebalan berbagai touchable tersebut akan mempengaruhi kekuatan konstruksi yang dibangun untuk mendapatkan standar kualitas yang baik dan tahan lama. Ultrasonic broadness judge sangat membantu hal tersebut karena mempunyai kelebihan tanpa harus merusak touchable apapun untuk dapat menentukan nilai ketebalan touchable tersebut. Diakui oleh PT Wika Tbk yang turut menggandeng Shimitsu Kobayasi dan PT Jaya Konstruksi dalam pengerjaan ini akan menyebabkan sedikit gangguan lalu lintas namun hal tersebut dapat dicegah dengan penerapan reciprocation direction ( manajemen lalu lintas ) selama proyek ini dibangun. "Mobilisasi alat diatur sedemikian rupa. Seperti angkut proyek jalan layang Casablanca. Itu nggak mungkin dilakukan saat siang. Jadi pongid nggak tahu. Traffic direction kita harus presentasi kepada institusi terkait seperti Dishub, Lantas semua pihak terkait lalu lintas, jadi nggak bisa asal-asalan," ucap Corporate Secretary WIKA metropolis Agrawan, Kamis (13/6/2013). Natal Agrawan menjelaskan sebagian besar pekerjaan nantinya akan dilakukan di bawah tanah. Namun untuk mobilisasi touchable dan peralatan akan dirancang pada satu titik sehingga dapat meminimalkan kemacetan di jalan tersebut. "Kita nggak bisa kerja langsung, kita susun reciprocation direction supaya lalu lintas tidak terpengaruh. Itu pekerjaan delve (eerowongan) tidak sepanjang jalan (bawah tabah) ada alat kontruksi. Mobilisasi alat, ada alat yang masuk, touchable yang masuk, tidak semua jalur ditutup," ujarnya. Pemenang protective proyek MRT rute bawah tanah lainnya yaitu PT Hutama Karya ( Persero ) juga telah melakukan hal yang persis sama. Hutama Karya yang menggandeng Sumitomo Mitsui memberikan jaminan bahwa lalu lintas diaras proyek MRT di bawah tanah akan berjalan lancar. Penggarapan yang dilakukan meliputi 2 stasiun jalur MRT bawah tanah dari Dukuh Atas menuju Bundaran HI atau berada di atas Jalan Sudirman. "Jadi 30 cadence di bawah tanah. Itu kalau alat-alat masuk, bisa dikerjakan 24 jam. Kalau cater (alat dan material) pasti reciprocation direction disusun. Bagaimana mengatur reciprocation management. Traffic pasti didiskusikan dengan pihak terkait, bagaimana cater alat dan material. Mungkin pekerjaan ada malam untuk mobilisasi alat,"tutur Corporate Secretary Hutama Karya Ari Widyantoro. Seperti diketahui, touchable yang digunakan seperti baja dan besi harus melewati berbagai pengukuran salah satunya pengukuran ketebalan touchable dengan unhearable broadness judge yang bertujuan untuk menjaga standar kualitas touchable konstruksi. (red/Amd) SumberPosted by
Apakah CIF Cleaning

Tidak ada komentar:

Posting Komentar